SEMARANG, – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Falak Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang sukses menggelar agenda tahunan bergengsi Seminar Nasional Ilmu Falak 2026 pada Selasa (19/5/2026). Acara ilmiah yang mempertemukan para pakar, akademisi, dan ratusan mahasiswa dari berbagai daerah ini bertempat di Ruang Teatrikal Prof. Ahmad Qodri Azizi, Kampus III UIN Walisongo Semarang. Tema yang diusung pun sangat relevan dengan dinamika kontemporer, yakni “Kriteria Visibilitas Hilal Neo MABIMS antara Peluang dan Tantangan di Era Artificial Intelligence (AI)”.
Ketua Panitia Pelaksana, Muhammad Sawal Dias Erlangga, dalam sambutannya menyampaikan laporan kesiapan teknis dan esensi penting di balik pemilihan tema tahun ini. Dirinya menyebutkan bahwa tantangan penentuan awal bulan kamariah ke depan akan semakin kompleks, sehingga integrasi antara khazanah keilmuan klasik pesantren dan kemajuan teknologi mutakhir menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditunda lagi.
Senada dengan hal itu, Ketua HMJ Ilmu Falak UIN Walisongo 2026, Pipit Elsa Puspita Dewi, menegaskan bahwa momentum ini adalah bukti kesiapan para kader falak muda Nahdliyin dalam merespons lompatan teknologi global.
“Kehadiran teknologi kecerdasan buatan atau AI ini tidak boleh kita pandang sebagai ancaman yang akan menggeser otoritas keilmuan manusia, melainkan harus diletakkan sebagai peluang besar untuk menyempurnakan ketelitian metode hisab dan rukyatul hilal konvensional di Indonesia,” tegas Pipit saat memberikan sambutan.
Acara berskala nasional ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Walisongo Semarang, Dr. H. Tolkah, MA.
Dalam sambutan pembukaannya, Dr. H. Tolkah, MA memberikan apresiasi yang luar biasa kepada jajaran pengurus HMJ dan panitia pelaksana. Beliau menekankan bahwa keilmuan falak harus terus bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman.
“Ilmu Falak di UIN Walisongo ini bukan sekadar program studi akademik biasa, melainkan benteng peradaban yang menjaga tradisi perhitungan waktu umat ke depan. Kami berharap output seminar ini mampu melahirkan pemikiran segar yang integratif,” ujar Dr. H. Tolkah

