Sambut 1 Syawwal 1441 H HMJ Ilmu Falak Gelar Seminar Falak Internasional

0
302
Dok. foto seminar online falak Internasioal via aplikasi Zoom Meeting

“Study from Home” istilah yang ramai ditengah merebaknya Covid-19, mendorong kolaborasi HMJ Ilmu Falak UIN Walisongo S1 dan S2 Ilmu Falak FSH UIN Walisongo bersama ADFI (Asosiasi Dosen Falak Indonesia) menggelar acara Seminar Online Falak Internasional.

Seminar online yang bertemakan “Penetapan 1 Ramadhan, Syawwal dan Dzulhijjah di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei” ini diadakan melalui aplikasi Zoom Meeting dan disiarkan secara langsung di youtube channel HMJ IF  (Ilmu Falak Walisongo) pada hari Selasa, 19/05/2020.

Dok. Foto Prof. Dr. Ibnor Azli Ibrahim (Malaysia) saat memaparkan materi melalui saluran Youtube HMJ Ilmu Falak

Acara online ini diikuti lebih dari 650 peserta, yang berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari siswa, mahasiswa, dosen, santri, dan juga ahli falak dari berbagai ormas islam seperti : PBNU, PP Muhammadiyah, Persis, dll. Selain dari penjuru nusantara, seminar ini juga diikuti dari berbagai negara seperti Malaysia, Brunei dan Singapura.

Ketua Prodi Ilmu Falak S2 UIN Walisongo Dr. Mahsun, M.Ag. sebagai moderator jalannya seminar berhasil menggandeng narasumber pakar astronomi, yakni: ketua LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, Pakar Falak Malaysia dan Brunei Prof. Dr. Ibnor Azli Ibrahim, dan juga Ketua Asosiasi Dosen Falak Indonesia Dr. Ahmad Izzuddin, M.Ag.

Sebagai pembuka acara sambutan oleh Ketua Rektor UIN Walisongo Prof. Dr. Imam Taufiq, M.Ag turut sampaikan tokoh-tokoh Ilmu Falak terdahulu seperti : Al-khawarizmi, Ali bin Ridwan, Al-birruni dan tokoh lainnya.

“Ilmu astronomi merupakan salah satu cabang ilmu awwail, terdahulu tidak hanya disebut ilmu bintang yang mengkaji fenomena langit, tapi juga yang paling utama adalah implikasi yang bermanfaat dalam kajian ilmu ini pada kemanusiaan dan peradaban” papar Imam.

“Banyak sekali tokoh astronomi islam terdahulu yang peran dan kiprah besarnya dapat kita jadikan referensi, misalnya tokoh Al-khawarizmi, yang telah menemukan banyak teori di tahun 820 M. Salah satunya tabel astronomi dan penemuan yang luar biasa lainnya”

“Dan diawal abad ke-11 ada tokoh Al-Birruni, penemu kajian teori matahari, bulan, planet, khususnya pergerakan bumi secara tahunan seperti penemuanan jarak antar planet dan sebagainya. Ada lagi tokoh Ali bin Ridwan Mesir, yang berhasil mengamati ledakan bintang supernova di tahun 1006 M. Dan masih banyak tokoh islam lainnya yang menjadi inspirator kita” imbuhan Imam dalam sambutannya pembuka acara.

Di penghujung acara, penutupan oleh Dr. Moh. Arja Imroni, M.Ag selaku Ketua Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum turut sampaikan kesimpulan serta harapan kedepannya.

“Kesimpulannya upaya melakukan unifikasi penentuan awal bulan khususnya dinegara Asia Tenggara tentunya harus melalui liku2 yang tidak mudah, seperti melakukan penggabungan antara ide-ide akademis dan political will karna jika itu tidak terjadi, maka hal itu tidak akan terealisasikan. Egosentrisme kelompok itu perlu ada ruang tawar menawar secara akademis tidak kaku bermadzhab karna jika berdiskusi tentang kajian fikih pasti menimbulkan perkhilafan”. papar Arja.

“Harapannya, mudah-mudahan kegiatan ini menjadi awal kerjasama para partisipan dan ahli falak untuk terus konsen dalam pengembangan Ilmu Astronomi dan Ilmu Falak yang juga ada kaitannya dengan ilmu-ilmu Syariat (agama)” imbuh Arja di sesi penutupan.

 

Oleh: Selma Salsabila Andini 

Editor: Kominfo HMJ Ilmu Falak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here