Pribumisasi Gerhana

0
220

Falak dan Gerhana

Di dalam peradaban Islam, kita mengenal ilmu yang menemukan benda-benda langit, yang juga dikenal dengan ilmu Falak. Ilmu Falak juga bisa disebut Astronomi. Benar-benar satu benar benar benar. Apa yang dipelajari Falak adalah benda langit begitu pun Astronomi.

Sementara itu membantah pendapat ini mengatakan bahwa Astronomi mengkaji antariksa luas. Sementara Falak terbatas mengkaji benda langit untuk keperluan ibadah umat Islam atau mudahnya, Falak adalah bagian dari Astronomi yang telah diislamkan.

Empat hal yang menjadi objek Ilmu Falak yaitu: awal bulan, Arah kiblat, awal waktu shalat dan gerhana. Kajian gerhana sangat menarik dan menarik khusus untuk segala jenis ibadah yang lain. Karena ia berkaitan langsung dengan fenomena alam yang unik.

Gerhana dalam Peradaban, Sains, dan Agama

Fenomena alam terkait benda langit adalah hal yang menarik dalam perkembangan peradaban manusia sejak kala. Gerhana adalah sesuatu yang dulu dianggap sakral, dan sering kali dibahas dengan kejadian mistis tertentu. Ini adalah peristiwa yang terjadi yang menampilkan raksasa (setiap peradaban yang dilihat dengan wujud yang berbeda-beda) yang ingin menyaksikan Matahari. Keyakinan itu lahir karena keterbatasan intelektual dan kepercayaan masyarakat lokal saat itu.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sains, fenomena gerhana dilihat sebagai peristiwa alam yang terjadi terjadi siang dan malam. Setiap wilayah yang disinggahi gerhana akan berbeda-beda. Karena posisi letak geografis, posisi dan jarak matahari dengan wilayah tersebut. Gerhana matahari terjadi kompilasi bulan terletak di antara bumi dan matahari dalam satu garis lurus sehingga menutup cahaya matahari. Sementara Gerhana Bulan terjadi kompilasi bulan dipasang bayangan bumi (umbra) sehingga ia tidak bisa memantulkan cahaya matahari biasanya.

Dalam Islam, fenomena gerhana merupakan tanda-tanda dari kekuasaan dan keagungan Allah SWT yang harus dihayati dengan penuh keimanan. Ini adalah hal dasar aqidah umat Islam yang harus diteguhkan dalam menyikapi gerhana. Selain itu, Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim yang disuarakan oleh Nabi pernah bersabda: “ Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua macam tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadi gerhana matahari atau bulan bukan karena kematian seseorang atau kelahirannya. Maka jikalau kamu ikut, berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah bersedekahlah dan juga shalatlah ”.

Dari hadits di atas, mari kita bahas dalam menyikapi gerhana kita semestinya memperkuat keimanan kita dengan banyak mempermasalahkan dan beribadah. Gerhana juga tidak perlu kita kaitkan dengan adanya kematian, kelahiran, musibah atau apapun itu. Ia adalah fenomena alam yang menunjukkan kebesaran Allah SWT.

Saya berpikir lebih dari tiga hal yang diambil Islam dalam menyikapi gerhana berdasarkan hadits yang saya kutip di atas. Pertama, pengagungan kebesaran Allah SWT dalam bentuk perintah bertakbir. Ini kita lakukan dengan mengubah keyakinan kita tentang gerhana agar sesuai dengan ajaran Islam. Kedua, hubungan baik dengan Allah dalam perintah berdo’a dan melaksanakan shalat. Ini kita lakukan dengan menjalankan shalat kompilasi bertemu gerhana. Ketiga, hubungan baik antarsesama dalam perintah bersedekah. Ini kita lakukan dengan melakukan tradisi-tradisi masyrakat kita (selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam) dalam menyikapi fenomena gerhana yang terjadi.

Ilustrasi.Photo sholat gerhana /Tribunjabar.id

Pribumisasi Gerhana

Ahmad Izzuddin, dosen saya diperkuliahan terkait fiqih gerhana pernah mengatakan tentang kajian terkait budaya lokal di Indonesia kompilasi mencari gerhana adalah hal yang menarik untuk dipelajari dan dijelaskan. Hal serupa juga ditambahkan oleh Ahmad Syiaul Anam, yang juga guru saya Nilai-nilai budaya lokal ( Kearifan Lokal) yang hadir saat gerhana adalah bagian dari belantara Ilmu Falak yang ditelusuri ditelusuri oleh umat muslim Indonesia, wabilkhusus yang menggunakan Ilmu Falak.

Saat itu saya teringat dengan apa yang pernah disampaikan Almarhum Gus Dur tentang Pribumisasi Islam. Menurut Gus Dur, perlunya ada Dinamisasi dan Pribumisasi Islam. Dinamisasi penyelesaian dua proses yaitu: pertama, penggalakan kembali nilai-nilai hidup lama yang positif (yaitu tradisi yang ada); kedua, ganti nilai-nilai lama dengan nilai-nilai baru yang diangap lebih sempurna.

Sementara pribumisasi Islam menurut Gus Dur adalah bentuk penolakan dari proses yang mengubah arabisasi yang menentang tercerabutnya kita dari akar budaya kita sendiri. Pribumisasi Islam di sini bukan untuk menghindarkan timbulnya perlawanan dari budaya-lokal, akan tetapi membela agar budaya itu sendiri tidak hilang seperti dilepaskan dalam Buku Kelas Pemikiran Gus Dur.

Lantas apa hubungan antara pribumisasi Islam yang digagas Gus Dur dengan pribumisasi Gerhana yang saya tulis sebagai judul di atas? Dalam menyikapi gerhana, berbagai suku di berbagai daerah di Indonesia percaya dan mendukung tradisi tertentu dalam rangka menyambut Gerhana yang hadir di daerahnya. Dalam bentuk keyakinan, saya menyetujui bahwa bentuk keyakinan yang dibantah dengan agama Islam mesti diubah. Sementara dalam hal tradisi ini banyak hal yang bisa dikembangkan dan dikembangkan.

Ada tradisi masyarakat Bugis Bone yang disebut Makebbu Bedak Picah atau Meramu Bedak. Saat terjadi Gerhana Matahari, perempuan bugis akan meramu bedak yang bermanfaat bagi kecantikan. Uniknya beras yang dibeli adalah beras yang diambil dari rumah tetangga lebih sedikit diam, yang diambil langsung dari tempat penyimpanan beras. Ini bukan tujuan awal untuk keburukan. Meramu bedak layak hal yang diharamkan. Pengambilan diam-diam itu yang mesti diubah.

Islam diharamkan dibatalkan. Namun Islam menganjurkan bersedekah. Terlebih disaat gerhana. Sebagai Muslim Bugis, saya tidak ingin membahas agama tetapi juga tidak ingin menentang tradisi yang unik. Suku Bugis menyambut gerhana ini. Saya pikir, jalan tegahnya adalah mengambil beras bisa diubah menjadi sedekah beras antar tetangga dalam rangka menyambut Gerhana Matahari.

Mencari Google Artikel Perkembangan seperti ITU Saya Tetap Menjaga Tradisi Makebbu Bedak Picah sebagai ANGGOTA ‘masyarakat Bugis. Dan saya tidak membahas ajaran Islam sebagai seorang Muslim.

Penulis: Andi Evan Nisastra, Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here