Sejarah Ilmu Falak Pra-Islam

0
2072

Pada zaman dahulu, umumnya manusia memahami atau mempelajari seluk beluk alam semesta hanyalah dengan mengamati kejadian atau fenomena seperti apa yang mereka lihat, yaitu dengan menggunakan panca indra, bahkan sering ditambahi dengan berbagai macam tahayul. Menurut mereka, matahari, bulan dan bintang-bintang dengan tertib mengelilingi bumi. Pada zaman dahulu orang menganggap bahwa peristiwa terjadinya gerhana matahari, gerhana bulan, jatuhnya batu meteor, adanya bintang berekor dan sebagainya merupakan suatu hal yang tidak beres. Bahkan timbul anggapan rekayasa bahwa ada raksasa yang menelan bulan, ada dewa marah, dan sebagainya. di dalam artikel ini akan di bahas mengenai “Sejarah Ilmu Falak Pra-Islam”, yang di mana banyak masyarakat dulu yang mengaitkan peristiwa-peristiwa yang ada di langit dengan tahayul.

Menurut Syekh Zubair Umar Jaelani, penemu pertama ilmu falak adalah Nabi Idris AS yang mana Allah SWT memberikan ilmu hikmah kepada beliau dengan jalan memberikan pengetahuan tentang rahasia-rahasia peredaran bintang dan susunan titik perkumpulan bintang-bintang di jagat raya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ilmu falak sejak saat itu telah ada, sedangkan falak itu sendiri telah ada jauh sebelum ilmu falak ditemukan, karena suatu ilmu ditemukan setelah adanya respond dan tanggapan dari sebuah persoalan dalam suatu masyarakat. Sedangkan menurut Dr. Yahya Syamsi sejarah ilmu falak dipetakan menjadi dua fase, yaitu Pra-Islam (Babilonia, Mesir kuno, Mesopotamia, China, India, dan Yunani) dan fase Islam.

Berdasarkan uraian diatas dapat kita ketahui bahwa ilmu falak sudah dikenal semenjak bangsa Babilonia (Irak kuno) dengan mengamati rasi bintang. dimana rasi bintang tersebut dianggap sebagai petunjuk tuhan yang harus dipecahkan. Bahkan pada zaman tersebut mereka sudah menggunakan rasi bintang untuk meramal kehidupan mereka. Pada zaman itu ilmu ini digunakan untuk menentukan waktu bagi saat-saat penyembahan berhala, seperti di Babilonia dan Mesopotamia untuk menyembah Astoroth dan Dewa Baal, juga di mesir untuk menyembah Dewa Isis dan Dewa Amon.

Pada peradaban Mesir kuno, mereka beranggapan dan meyakini bahwa bintang keseluruhannya hanya memiliki 36 rasi bintang dan masing-masing memiliki Dewa penjaga yang setiap Dewa tugasnya menjaga bintang tersebut selama 10 hari untuk setiap tahunnya yang menurut mereka setahuan hanya berjumlah 360 hari. Sebenarnya mereka juga mempunyai anggapan bahwasannya jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari.

Pada masa awal kedatangan islam, Ilmu Falak belum masyhur dikalangan umat Islam, walaupun Ilmu Falak sangat erat kaitannya dengan ibadah. Karena pada semasa Nabi SAW masih hidup, semua urusan ibadah dapat ditanyakan langsung kepadanya, perihal waktu dan tatacaranya. Walaupun sebenarnya ada juga di antara mereka yang mahir dalam perhitungan. sebenarnya perhitungan Tahun Hijriyah pernah digunakan sendiri oleh Nabi SAW ketika Beliau menulis surat untuk kaum Nasrani Bani Najrah, tertulis Tahun ke V Hijriyah, namun dikalangan orang Arab lebih mengenal tahun dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun tersebut. Seperti ketika adanya peristiwa tentara gajah, maka disebut dengan tahun gajah, tahun izin, tahun amar, tahun zilal, dan lain-lain.

Dengan demikian tentu Ilmu Falak pada masa awal kedatangan Islam sudah sedikit diketahui, akan tetapi belum masyhur dikalangan umat Islam. meskipun pada masa tersebut perkembangan Ilmu Falak belum memiliki bobot yang tinggi.
Dalam sejarah apabila diteliti secara mendetail ternyata di dunia Astronomi khususnya, dan ilmu pengetahuan pada umumnya, selama hampir delapan abad tidak nampak adanya masa keemasan. Baru pada masa Daulah Abbasiyah masa kejayaan Ilmu Falak itu nampak. Sebagaimana pada masa kholifah Abu Ja’far Al-Manshur, ilmu astronomi mendapat perhatian khusus, seperti upaya menerjemhkan kitab “Sindhind” dari India. Hal ini terjadi karena pada awal kedatangan Islam, umat Islam masih fokus pada penyebaran agama belum menginjak pada pengembangannya.

Nah itu tadi adalah sejarah singkat mengenai Ilmu Falak pada Pra-Islam.

Oleh : Najih Mumtaza Zen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here