Falak News_Sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap peristiwa astronomi di akhir tahun 2019, yaitu gerhana matahari cincin, maka prodi Ilmu Falak S1 UIN Walisongo Semarang mengirimkan salah seorang mahasiswanya untuk mengikuti observasi gerhana matahari cincin di Kabupaten Siak Provinsi Riau pada tanggal 26 Desember 2019. Ini merupakan salah satu fenomena langka dalam dunia astronomi. Terlebih tidak semua negara berkesempatan untuk dapat menyaksikan fenomena ini. Indonesia menjadi salah satu wilayah yang terlewati jalur cincin pada GMC 26 Desember 2019 selain Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, India, Srilangka, Samudra India, Singapura, Malaysia, dan Samudera Pasifik.

Adalah Rizka Aulia, mahasiswa prodi Ilmu Falak angkatan 2018, yang telah ditunjuk menjadi delegasi pada acara FGMC tersebut. Sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Rizka telah terbiasa menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi di kampus juga kegiatan lain yang berhubungan dengan kompetensi ilmu falak. Maka ketika ada momentum kegiatan falak yang langka seperti FGMC ini, timbul inisiatifnya untuk dapat berpartisipasi. Gayung pun bersambut, keinginannya langsung disambut dan difasilitasi oleh prodi dan fakultas.

 

Rizka Aulia, mahasiswa prodi Ilmu Falak Bersama angkatan 2018 bersama ketua LAPAN RI, Prof. Thomas Djamaluddin, M.Sc pada Festival Gerhana Matahari Cincin (FGMC) di Kabupaten Siak

Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan utama dalam rangkaian Festival Gerhana Matahari Cincin (FGMC) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Siak, Riau bekerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) tanggal 24 – 26 Desember 2019 lalu. FGMC juga dimeriahkan dengan mini planetarium, bimtek komunikasi satelit LAPAN A2/ORARI, talkshow seputar fenomena gerhana matahari cincin, pameran hasil litbang LAPAN, dan sosialisasi ke beberapa sekolah dan perguruan tinggi. LAPAN bersama Kemristekdikti juga mengadakan workshop teropong lubang jarum untuk 100 peserta, pameran fotografi gerhana matahari, dan kamera obscura. Selain itu juga terdapat pemecahan rekor MURI berupa kacamata gerhana terbesar. Siak dipilih sebagai lokasi observasi karena dianggap potensial untuk dapat melakukan pengamatan gerhana secara maksimal. Tepatnya yaitu di Kampung Bunsur, Sungai Apit, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Kaprodi Imu Falak, Moh. Khasan, M.Ag berpesan bahwa program ini merupakan bentuk student mobility untuk memfasilitasi mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar selain pengalaman di dalam kelas dan di lingkungan kampus. Mahasiswa akan mendapatkan pengayaan pengetahuan yang banyak yang tidak didapatkannya di kampus. Selain itu mereka juga akan mendapatkan tambahan teman dan sahabat sesama pemerhati bidang keilmuan tertentu, dalam hal ini ilmu falak baik dari dalam negeri maupun luar negeri, sehingga ada peluang terbentuk jaringan antar mahasiswa dan organisasi mahasiswa yang dapat ditindaklanjuti dengan kegiatan bersama di masa yang akan datang. Setelah selesai kegiatan, kaprodi berharap ada sharing informasi terhadap teman-teman yang lain sehingga dapat memotivasi dan menginspirasi teman-temannya untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan keilmuan yang lain, baik di level nasional maupun internasional. (TIM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here