Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Akan Jadi Terdepan dan Pertama

0
161

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Falak Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo mengadakan acara seminar nasional dengan tema “Urgensi Planetarium dan Observatorium di Jawa Tengah” di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang pada Senin (22/04).

Para pembicara yang hadir dalam acara ini adalah Prof. Thomas Djamaluddin, M.SC. sebagai kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), H. Abdul Halim Mahfudz, M.A. sebagai Direktur Maksum Research Center Jombang, Drs. H. Slamet Hambali, M. SI. Sebagai wakil ketua Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. H. Ahmad Izzuddin, M. Ag. Sebagai ketua umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia (ADFI), dan Anisah Budiwati S. H.I., M. SI. sebagai dosen Ilmu Falak Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang dimoderatori oleh M. Zainal Mawahib, S. H.I., M. H.

Menurut Yusuf Nur Qolbi selaku ketua panitia acara, menyampaikan bahwa pengambilan tema seminar berdasarkan hasil konsultasi kepada beberapa dosen. “Setelah dikasih usul tentang tema, lalu kami kumpul (musyawarah) lagi. Lalu kami merasa bahwa usul ini sangat tepat,” ungkap mahasiswa Ilmu Falak tersebut.

Ia menjelaskan bahwa tema yang diambil bertujuan untuk memberikan edukasi tidak hanya kepada para mahasiswa jurusan Ilmu Falak saja, tetapi kepada seluruh mahasiswa secara umum.

“Kita mengambil tema ini biar kita dapat memberikan edukasi betapa pentingnya Planetarium dan Observatorium di Jawa Tengah serta biar lebih gampanglah kalau kita mau adain penelitian soal kejadian-kejadian yang berhubungan dengan falak. Demi kemaslahatan generasi berikutnya,” ujar pria asal Sulawesi Selatan tersebut.

Urgensi Planetarium dan Obervatorium

Menurut Slamet Hambali, Planetarium bisa diartikan sebagai bangunan berkubah setengah lingkaran untuk memperlihatkan atau memperagakan  susunan dan gerakan bintang-bintang di langit.

“Planetarium ibaratnya adalah sebuah gedung bioskop, yaitu tempat untuk menonton pertunjukan film dengan menggunakan layar lebar. Bedanya kalau bioskop menggunakan layar lebar, sedangkan planetarium menggunakan kubah dalam bentuk setengah lingkaran sehingga seolah-olah penonton berada di tengah-tengah bola langit,” ujarnya

Sedangkan Observatorium menurutnya bisa diartikan sebagai gedung atau bangunan yang dilengkapi alat-alat seperti teleskop, teropong bintang, dan peralatan-peralatan lainnya untuk keperluan pengamatan dan penelitian ilmiah tentang bintang-bintang dan sebagainya

Ahmad Izzuddin, selaku ketua umum ADFI sangat optimis dengan Planetarium dan Observatorium yang ditargetkan akan selesai dibangun pada bulan Oktober 2019 mendatang. “Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo adalah terdepan dan pertama untuk perguruan tinggi negeri karena posisinya sangat strategis yang didesain untuk riset murni,” ujar Kaprodi S2 Ilmu Falak tersebut.

Merespon pandangan tersebut, Thomas Djamaluddin selaku kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyampaikan bahwa UIN Walisongo sudah saatnya untuk mempunyai fasilitas laboratorium dan edukasi.

“UIN Walisongo sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai spesialisasi di Falak itu sudah seharusnya mempunyai fasilitas laboraturium dan fasilitas edukasi”

Ia kemudian menjelaskan bahwa Planetarium dan Observatorium mempunyai beberapa fungsi, yakni fungsi edukasi dan juga fungsi peraga untuk menunjukkan pergerakan benda-benda langit dalam satu simulasi.

Anisah Budiwati selaku dosen Ilmu Falak Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta memberikan gambaran bahwa manfaat dari Ilmu Falak tidak hanya terfokus pada kajian awal bulan Qomariah, namun juga berfungsi untuk menentukan waktu ibadah-ibadah lainnya.

“Ilmu falak sebagai sains yaitu digunakan untuk menentukan posisi secara  tepat. Kita sebagai mahasiswa ilmu falak menyadari bahwa ilmu falak sangat bermanfaat tidak hanya untuk menentukan kapan berpuasa dan kapan lebaran tapi juga digunakan untuk menentukan waktu ibadah-ibadah yang lain”

Menurutnya, manfaat lain yang dari Ilmu Falak adalah untuk menentukan posisi benda-benda langit dengan bantuan dari Planetarium dan Observatorium. “Ketika kita sudah memiliki Planetarium dan Observatorium, itu akan menjadi jelas dan nyata (dalam mengamati benda-benda langit),” ujarnya ketika menyampaikan materi kepada para peserta acara. (Harly)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here